Tatkala Nabi Dzul Kifli telah wafat,
Raja Lam bin Du’am juga telah wafat’
Maka negeri Syam dikuasai oleh orang-orang ‘Amaiqah,
Nama Raja-raja mereka adalah :
Abu Jad, Hawaz, Hathoya, Kulaman, Sa’afash, Qorosyat,

Nama-nama Raja tersebut kini menjadi sebuah rumuz bilangan Arab,
Yang digunakan dalam ilmu Falak :

اَبَجَدٌ هَوَزٌ حَطَيَ كُلَمَنٌ سَعَفَصٌ قَرَشٌ تَثَخَذٌ ضَظَغُ

Masing-masing mempunyai arti sejarah Nabi Adam AS,

Qotadah menuturkan bahwa :
Nama-nama tersebut adalah nama-nama penguasa “Aikah”,

Sohabat Ibnu Abbas menuturkan bahwa maksud :
ABA : Ia bangkang durhaka pada Alloh,
JAD : Sungguh ia telah makan buah terlarang,
HAWAZ : Dialah pertama kali orang yang turun ke bumi,
HATHOYA : Alloh melebur dosanya sebab bertaubat
KULAMAN : Ia makan namun dianugrahi pengampunan,
SA’AFASH : Ia berjalan lalu berma’siat maka keluar dari ni’mat, QOROSYAT : Ia mengakui dosa maka diselamatkan dari siksaan,

Ka’b Al Akhbar menuturkan bahwa :
Seorang bernama Madyan bin Ibrohim ia diberi usia yang panjang,
Ia menikah dengan wanita keturunan ‘Amaliqah dikaruniai 4 anak,
Anak-anak mereka lalu menikah dan mempunyai banyak keturunan,

Maka Madyan bin Ibrohim memanggil anak yang tertua,
Beliau memerintahkan kepada anak tertua tersebut,
Agar mengumpulkan seluruh keturunan Madyan,
Maka berkumpullah seluruh anak cucu Madyan,

Lalu Madyan memberikan dorongan kepada anak cucunya,
Untuk mendirikan sebuah kota yang besar,
Diklilingi oleh pagar dinding sebagai benteng,
Dan mereka menempati kota tersebut dengan aman,

Maka mereka mulai membangun sebuah kota,
Dengan segala daya upaya dan kerukunan,
Jadilah bangunan tersebut dan diberi nama kota Madyan,

Seluruh anak cucu Madyan berdomisili di kota tersebut,
Melihat hal tersebut maka orang-orang suku ‘Amaliqah mengikuti, Mereka membangun tempat kediaman khusus buat qoum ‘Amaliqah,
Tempatnya berada di Aikah dekat kota Madyan,

AL KISAH,
Bahwa ada seorang ahli ibadah namanya SHON’UN,
Ia menikah dengan wanita keturunan ‘Amaliqah,
Ia dikaruniai seorang anak diberi nama BAIRUN,

Ketika Shon’un merasa telah lemah badannya karna tua,
Ia sering berdo’a kepada Alloh :

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْ شُعَيْبِيْ

“Yaa Alloooh,
Berikan berkah pada kami dalam anak kami”,

Beliau selalu menyebut SYU’AIBI dalam do’anya,
Do’a tersebut ditujukan untuk putranya yaitu BAIRUN,
Maka orang-orang menyebut BAIRUN dengan sebutan SYU’AIB,

Bersambung…

Lainnya