Kisah Nabi Harun AS (Bag. 4)

Nabi Harun merasa sedih karna perbuatan Samiri,
Ia menyesatkan kaum Bani Israil dengan Patung anak lembu,
Sebagaimana dikisahkan dalam surat Thohaa ayat 88 :

فَأَخْرَجَ لَهُمْ عِجْلًا جَسَدًا لَهُ خُوارٌ فَقَالُوْا هٰذَا اِلٰهُكُم وَاِلٰهُ مُوْسٰى فَنَسِيَ

Kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka,
Anak lembu yang bertubuh dan bersuara, [939],
Maka mereka berkata :
“Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa”.

Nabi Harun menasihati mereka agar jangan menyembah patung,
Namun mereka tidak menerima nasihat beliau,
Mereka membantah dan tetap menyembah patung anak lembu,
Sebagaimana dituturkan dalam surat Thohaa ayat 90 – 91 :

وَلقَدْ قَالَ لَهُمْ هٰرُوْنُ مِنْ قَبْلُ يٰقَوْمِ اِنَّمَا فُتِنْتُمْ بِهِ
وَاِنَّ رَبَّكُمُ الرَحْمٰنُ فَاتَّبِعُوْنِيْ وَأَطِيْعُوْ اَمْرِيْ
قَالُوْا لَنْ نَبْرَحَ عَلَيْهِ عَاكِفِيْنَ حَتّٰى يَرْجِعَ اِلَيْنَا مُوْسٰى

Dan Sungguh Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya:
“Hai kaumku, Sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan,
Dengan anak lembu itu,
Dan Sesungguhnya Tuhanmu ialah yang Maha pemurah,
Maka ikutilah aku dan taatilah perintahku”.

Mereka menjawab :
“Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini,
Hingga Musa kembali kepada kami”,

Nabi Harun sangat sedih melihat kesesatan Samiri,
Para kaumnya juga terus menyembah patung anak lembu,
Hingga Nabi Musa datang kembali dari munajatnya di Thur Sina,
Beliau membawa beberapa lembaran papan kitab Taurot,

Ketika melihat kaumnya menyembah patung, beliau sangat marah,
Pertama yang dimarahi adalah kakaknya ( Nabi Harun ),
Saking marahnya beliau menarik rambut Nabi Harun,
Beliau berkata :
“Alangkah buruknya cara kamu menggantikan aku”,

Nabi Harun hanya bisa memohon,
Agar adiknya ( Musa ) tidak bersikeras terhadap Nabi Harun,
Beliau melaporkan perbuatan Samiri,
Beliau juga melaporkan ketidak patuhan kaumnya,
Sehingga Nabi Musa pun merasa kasihan kepada kakanya,
Sebagaimana dituturkan dalam surat Al A’roof 150 – 151 :

وَلَمَّا رَجَعَ مُوْسٰى اِلٰى قَوْمِهِ غَضْبَانَ اَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُوِنِيْ مِنْ بَعْدِيْ
أَعَجِلْتُمْ اَمرَ رَبِّكُم ؟ وَ أَلْقٰى الْاَلْوَاحَ وَأَخَذَ بِرأْسِ أَخِيْهِ يَجُرُّهُ اِلَيْهِ
قَالَ ابْنَ اُمَّ اِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُوْنِ وَكَادُوْا يَقْتُلُوْنَنِيْ
فَلَا تُشِمِتْ بِيَ الْاَعْدَاءَ وَلَا تَجْعَلْنِيْ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ

Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya,
Dengan marah dan sedih kecewa,
Maka berkatalah dia :
“Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan,
Sesudah kepergianku !
Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu ?
Dan Musa pun melemparkan beberapa lembaran papan (Taurat)
Dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun),
Sambil menariknya ke arahnya,
Harun berkata : “Hai anak ibuku,
Sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah,
Dan Hampir-hampir mereka membunuhku,
Maka janganlah kamu jadikan musuh-musuh gembira melihatku,
Dan janganlah kamu masukkan aku,
Kedalam golongan orang-orang yang zalim”

Nabi Musa merasa iba dan kasiha kepada kakanya,
Maka ia pun berdo’a :

قَالَ رَبِّ اغْفِرْلِيْ وَلِاَخِيْ وَأَدْخِلْنَا فِيْ رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ اَرحَمُ الرَّاحِمِيْنَ

Musa berdoa: “Ya Tuhanku,
Ampunilah aku dan saudaraku,
Dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau,
Dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara Para Penyayang”.

Bersambung …

 

Oleh: Kiai Sabartas

Lainnya