Antara “in SYaa Allah & in SHaa Allah”

Secara akademik sebenarnya Kemenag sdh menerbitkan pedoman transliterasi Arab-Indoensia spt yg lazim kita lihat di bagian depan karya2 tulis ilmiah spt skripsi, tesis, dan disertasi. Shg pedoman ini dlm aspek akademi sifatnya mengikat.
Spt halnya Barat jg memiliki pedoman yg sama (Arab-Inggris) dgn ketentuan yg agak berbeda dan sifatnya jg mengikat bagi karya tulis akademik.
Sbg contoh, jika kita menulis lafaz ان شاء الله dgn aksara Indonesia dlm karya ilmiah, maka menjadi in syaa Allah. Namun jika ditulis dlm bhs Inggris mk menjadi in shaa Allah.
Sbb dlm bhs Indonesia huruf ش transliterasinya adalah Sy, sdgkan dlm bhs Inggris adalah Sh.

Lantas bgmn penggunaan transliterasi ini dlm kehidupan awam/umum sehari2?
Kita pakai saja qaidah:
مقاصد اللفظ علي نية اللافظ
(Maqashidul lafdzi ala niyyatil lafidzi)
“Maksud suatu ucapan itu tergantung pd yg mengucapkan”
Dari sini kita bertolak bahwa tak ada masalah dlm pengIndoesiaan kata2 asing selama maksudnya mmg sdh dimaklumi org lain dan apa yg dikatakan adalah kalimat yg mmg sdh maklum. So…no problem.

Yg membuat sy tergelitik adalah ktika ada sebagian org yg memaksa utk meng-Islamisasi-kan suatu akronim (padanan kata/singkatan) agar tampak lebih religius.
Contohnya:
utk menggambarkan bahwa kita sdg melakukan gerakan menuju satu tempat tujuan, kita sering menggunakan akronim inggris yakni OTW (On The Way).
Lalu sbgian kita lantas “Meng-Islamisasi-nya” dgn BMW (Bismillahi majreha wa mursaha).
Haduh…pdhal yg paling pas utk menggambarkan situasi menuju Tempat itu kan mmg OTW. Tp kalo mmg mau pake BMW ya boleh sih, asal lawan bicaranya (mutakallim-nya) faham.
Lagian, sebenarnya kalo diusut, BMW itu kan doa naik perahu/kapal…😅


Wallahu a’lam bish showab

Oleh: Ahmad Rabitha (alumni PP Tabah, tinggal di Kalimantan)